Sarri Sebal dengan Cedera yang Diderita Loftus-Cheek

Sarri Sebal dengan Cedera yang Diderita Loftus-Cheek

Pelatih Chelsea, Maurizio Sarri, di pinggir gelanggang nampak sebal kala gelandang andalannya Ruben Loftus-Cheek dihantam cedera kala melakoni laga amal vs New England pada Rabu (15/5/2019) masa setempat.

Ruben Loftus-Cheek di dalam banyak laga terbaru memainkan peranan yang lumayan vital. Loftus-Cheek diharuskan diganti akibat cedera engkel yang diderita kala laga masuk ke menit ke-60. Pertandingan melawan New England selesai 3-0 untuk Chelsea.

Menyaksikan Loftus-Cheek dihantam cedera, Sarri lalu memperlihatkan ketidakpuasannya. Sarri tertangkap kamera mengambil mantel dan melemparkannya menuju pinggir gelanggang. Asisten pelatih, Gianfranco Zola, yang duduk disebelah Sarri lalu mengambil mantel yang dilemparkan itu.

Kemurkaan yang diperlihatkan Sarri lumayan beralasan. Pasalnya, Chelsea bakal melakoni pertandingan krusial melawan Arsenal di final Liga Europa. Jelas, tanpa Loftus-Cheek bakal menggangu dan memiliki pengaruh di dalam memburu satu-satu piala yang masih bisa didapat tim bimbingan Maurizio Sarri.

Pada wartawan, Sarri mengatakan ketidakpuasannya atas digelarnya laga itu yang saatnya berdekatan dengan laga pamungkas Liga Europa. “Sayangnya kami mesti pergi menuju Amerika Serikat. Namun, kami punya sepuluh hari untuk mempersiapkan laga pamungkas dan kami mesti memulihkan energi. ”

“Kami pergi menuju sana untuk sebab yang bagus. Namun, sebagai juru tak-tik, pastinya, aku cukup panik sebab aku paham betul jika skuat saat ini butuh istirahat. Jadi ini bukanlah cara paling baik untuk mempersiapkan laga pamungkas, aku kira. ” jelas Maurizio Sarri.

Setelah Di Francesco, AS Roma Segera Ditinggal Monchi

Setelah Di Francesco, AS Roma Segera Ditinggal Monchi

Badai masalah di AS Roma belumlah berakhir. Usai mendepak juru tak-tik Eusebio Di Francesco, tim ibukota Italia itu mungkin bakal ditinggalkan Direktur Olahraga tim, Luis Monchi.

Tempat Monchi sekarang tengah ada pada akhir tanduk. Dia disebut jadi biang keladi soal Roma kampanye musim ini. Penyebabnya tentu saja taktik transfer yang tak akurat.

Meski memperoleh beberapa bintang baru, penampilan tim yang dijuluki I Giallorosi itu jauh dari tutur sempurna. Bintang-bintang anyar tidak berhasil menambal keberangkatan pemain mereka seperti Radja Nainggolan, Kevin Strootman, dan Alisson Becker.

Masalah itu juga yang menimbulkan tempat Monchi terancam. Meski tengah terikat kesepakatan kontrak sampai 2021 nanti, tidak sedikit yang menduga lelaki dari Spanyol itu segera pergi.

Corriere dello Sport serta Tuttomercaroweb melaporkan sang direktur akan memutus kesepakatan kontraknya dengan Roma dalam waktu dekat. Laporan itu seiring dengan minat Arsenal yang perlu pengganti Sven Mislintat yang pindah Januari lalu.

Mantan direktur Sevilla itu makin tak betah di ibukota Italia sehabis ia memperoleh makian dari suporter setibanya di bandara Roma. Mereka sebal dengan hasil negatif kesebelasan kesayangannya dari Liga Champions sehabis digagalkan tim Portugal, FC Porto.

Sementara itu, teka-teki keberangkatan Monchi makin jelas terasa. Hal itu setidak-tidaknya nampak saat ia ogah menghadiri konferensi pers sebelum serta sesudah laga Porto berjalan. Apa yang ia kerjakan itu jelas berbanding terbalik dengan yang dikerjakan selama ini.

Krzysztof Piatek Tak Pernah Latihan Serius di AC Milan

Krzysztof Piatek Tak Pernah Latihan Serius di AC Milan

Juru tak-tik AC Milan, Gennaro Gattuso, mengungkap strikernya, Krzysztof Piatek, jarang latihan serius bareng Rossoneri. Dia mengatakan jika Piatek setingkat lebih senang mencari tahu pergerakan calon musuhnya.

Piatek jadi sensasi di Serie A Italia kampanye musim ini. Genoa tim perdana yang mendatangkannya dari tim Polandia, Cracovia. Dalam 19 laga bareng Il Grifone, striker berusia 23 tahun ini mencatat 13 goal.

Kegarangan Piatek ini yang membikin AC Milan rela menjual Gonzalo Higuain menuju Chelsea. Keputusan klub dari kota mode ini membuahkan hasil manis. Piatek mencatat 7 goal di dalam 6 laga pertama bersama jersey Rossoneri.

“Piatek sudah adaptasi dengan amat bagus serta berlatih dengan keras, namun ia bukanlah pemain yang menonjol di dalam pelatihan. Ia memegang situasi dirinya sendiri, namun tak berbuat banyak pelatihan. Ia jauh setingkat lebih praktis, memusatkan perhatian di hal-hal vital serta senang menguji gerakan, 2 ataupun 3 hari sebelum laga, ” tutur Gattuso
pada Soccerway.

“Piatek amat berminat di dalam penelitian serta hadir guna bertanya pada staf mengenai karakteristik semua pemain bertahan lawan, ” sambung Gattuso.

AC Milan sendiri sekarang ada pada peringkat 4 klasemen sementara Serie A. Rossoneri cuma terpaut 2 poin dari Inter Milan yang ada pada atas mereka.

Kemenangan Atas Parma Jadi Modal Napoli guna Hadapi Juventus

Kemenangan Atas Parma Jadi Modal Napoli guna Hadapi Juventus

Pelatih Napoli, Carlo Ancelotti, mengatakan pencapaian gemilang dalam laga melawan Parma menjadi modal berharga untuk pertandingan melawan Juventus akhir pekan nanti. Dia pun meminta anak asuhnya dapat tampil stabil di sisa pertandingan kampanye musim ini.

Sebelum kemenangan vs Parma, Partenopei pernah dua kali tertahan saat bertanding vs Fiorentina serta Torino. 2 hasil tidak begitu memuaskan ini semakin menjauhkan Juventus melalui kejaran mereka.

“Para pemain memang menunjukkan performa yang tidak jauh lain di laga melawan Parma. Hanya saja, para pemain bisa memaksimalkan tiap-tiap peluang yang mereka peroleh, ” tutur Ancelotti pada Football Italia.

“Sekarang, saya meminta para pemain dapat terus memperlihatkan penampilan cemerlang dan tetap bersaing pada papan atas klasemen Serie A. Saya percaya kami telah siap guna menantang Juventus. Kami berpikir sangat terhormat karena bakal menghadapi satu-satunya tim yang lebih bagus dari Napoli,” tutupnya.

Ferguson: Jasa Eric Harrison untuk Sepakbola Amat Besar

Manchester United baru kehilangan juru tak-tik legendaris team belianya, Eric Harrison, yang meninggal dunia pada Kamis (14/2). Kehilangan seorang yang berjasa di dalam melahirkan talenta-talenta dahsyat membuat eks juru tak-tik legendaris, Sir Alex Ferguson, merasa sedih.

Harrison meninggal pada usia 81 tahun lantaran mengidap penyakit gangguan otak. Sepanjang kariernya di kesebelasan muda MU, dia terkenal sebagai orang yang berjasa mencetak Class of 92 yang berisikan para pemain spektakuler semacam Gary serta Phill Neville, David Beckham, Paul Scholes, Nicky Butt, Ryan Giggs, serta lain.

Meski begitu Ferguson memandang kesukesan Eric Harrison bukanlah cuma buat United saja, namun sekaligus dunia sepakbola. Dia menyatakan koleganya ini orang yang amat ahli membentuk karakter bintang pada usia muda.

“Kontribusi Eric bukanlah cuma buat Manchester United saja, namun sekaligus sepakbola. Ia orang yang mengagumkan. Saat aku tiba menjadi pelatih aku amat mujur punya Eric di staf kepelatihan kesebelasan muda, ” tutur Ferguson sebagaimana ditulis website resmi MU, Kamis (14/2).

“Jadi aku dapat melihat job yang ia kerjakan serta ini tak cuma berlaku guna Class of 92 saja namun sekaligus seluruh wonderkid. Ia membuat karakter serta determinasi mereka pada usia muda serta mempersiapkan mereka kala professional, ” dia melanjutkan.

Di balik jasa heroiknya membentuk karakter David Beckham dkk, Harrison tersohor sebagai seorang yang humoris. Ferguson juga tidak jarang menghabiskan waktu bareng lelaki Inggris ini.

“Secara personal, ia memiliki selera humor yang amat lantang serta aku amat menyukai ini di dalam dirinya, ” pungkas juru tak-tik yang akrab disapa Fergie itu.